Opini 15 : Pandangan Keliru Mengenai Minat Baca Masyarakat Indonesia


Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang malas membaca,begitulah kira-kira paradigma yang berkembang di Negara kita ini.Pandangan ini didukung oleh fakta sejarah bahwa peninggalan budaya Indonesia yang berbentuk tulisan terbilang minim.Meskipun kita mengenal ada beberapa penulis kitab,namun boleh dibilang prosentasenya minim.Kebanyakan budaya kita hadir dalam bentuk syair,lagu atau bentuk tak tertulis lainnya.Sudut pandang inilah yang menjadi semacam patokan bagi para peneliti untuk menyimpulkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia itu rendah.

Pertanyaanya sekarang adalah,benarkah demikian?sejujurnya saya kurang sependapat dengan sudut pandang ini.Memang benar,bahwa di Indonesia peninggalan sejarah yang berbentuk tulisan terbilang minim,namun tidak berarti hal ini bisa menjadi patokan umum untuk mengatakan bahwa masyarakat Indonesia malas untuk membaca.Sejujurnya saya melihat ada beberapa alasan yang menjadi latar belakang “kemalasan “ ini.

Pertama,tingkat pendidikan masyakat Indonesia yang tidak seluruhnya terpelajar.Mari kita berangkat dari fakta bahwa pendidikan di Indonesia adalah barang “baru”.Meskipun saya mengatakan baru namun tidak bermakna “baru” secara absolut,namun lebih bermakna komparatif,dalam artian bahwa dibandingkan dengan Negara berkembang lainnya konsep pendidikan di Indonesia terbilang baru.Mari kita menilik fakta bahwa pendidikan dari jaman kerajaan dulu hanya diperuntukan bagi kaum bangsawan.

Di jaman penjajahanpun hanya mereka yang memiliki status sosial tinggi saja yang dapat menikmati pendidikan.Tokoh-tokoh terkenal dalam buku sejarah kita itu merupakan orang berada yang tidak hanya pintar namun juga berduit.Tokoh-tokoh elite ini sendiri hanya mewakili sebagian kecil masyarakat Indonesia.sementara itu disisi lain,kebanyakan masyarakat Indonesia jaman itu masih tidak terpikir pentingnya pendidikan.

Dijaman orde baru sekalipun,jangkauan pendidikan masih berpusat pada pulau Jawa dan pendidikan sendiri masih dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting.Oleh karena itulah,boleh dibilang pada jaman itu kemampuan membaca masyarakat kita masih belum bisa diandalkan.masih banyak orang yang buta huruf waktu itu.Ketika jumlah buta huruf tinggi dan jangkauan pendidikan rendah,tentu kita tidak bisa mengharapkan mereka untuk memiliki minat baca yang tinggi.

Pendidikan di Indonesia menjadi sebuah komoditas umum adalah ketika memasuki era 90an dimana kesejahteraan masyarakat di Indonesia terbilang cukup “merata”.Tentu saja hal ini mengesampingkan fakta mengenai daerah timur Indonesia yang masih sulit untuk mendapatkan akses pendidikan.Namun demikian,daerah barat Indonesia yang  mewakili mayoritas penduduk Indonesia sudah mendapatkan akses pendidikan yang cukup.

Dari sini,kita akan menanjak pada permasalah kedua kenapa minat baca masyarakat Indonesia rendah yakni kualitas bahan bacaan.Kualitas bahan bacaan di Indonesia boleh dibilang rendah dibandingkan dengan Negara lainnya.Saya sendiri menyadari hal ini ketika berkesempatan untuk membandingkan beberapa bahan bacaan dari beberapa Negara dan membandingkannya dengan bahan bacaan Negara kita.Ada beberapa kelemahan yang cukup menonjol dalam bahan bacaan yang kita miliki yakni dari segi isi bacaan,kemudahan untuk dipahami dan orisinalitas.

Dari segi isi bacaannya,untuk beberapa buku bacaan ilmiah misalnya,buku dalam negeri cenderung mencoba untuk memasukan banyak informasi secara bersamaan kedalam satu buku tanpa mencoba untuk membahas lebih mendalam mengenai informasi tersebut.Misalnya begini,buku pengantar manajemen di Indonesia memiliki kecenderungan untuk menempatkan banyak definisi tentang manajemen (dari banyak ahli meskipun bertentangan) tanpa memberikan penjelasan mendalam mengapa definisi ini muncul.

Disisi lain,buku pengantar manajemen versi barat hanya menggunakan satu definisi manajemen,namun membahas definisi ini secara mendalam dan menjelaskan satu pola pikir mengapa definisi ini diambil.Kecenderungan untuk memasukan terlalu banyak informasi kedalam satu tema atau satu buku membuat pembaca cenderung kesulitan untuk memahami isi buku tersebut dan pada akhirnya membuat mereka enggan untuk membaca buku itu sendiri.

Selain dari segi isinya yang cenderung terlalu dipadatkan,buku di Indonesia juga bermasalah dari segi kemudahannya untuk dipahami.Beberapa buku luar negeri jika anda baca,akan terkesan seperti orang bercerita dalam kelas.Konsep ini memberikan sedikit informasi,namun membangun konstruksi pikir kenapa konsep tersebut muncul dan bagaimana konsep tersebut diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.Hal ini tidak muncul di buku Indonesia.

Buku di Indonesia cenderung menggunakan banyak saduran dari berbagai sumber (termasuk sumber buku barat),dan memiliki kecenderungan menggunakan bahasa yang sulit dimengerti.Hal ini membuat pembaca kesulitan untuk memahami alur pikir yang ingin dibawakan oleh sang penulis.Ketika logika pikir yang dituangkan dalam bentuk tulisan ini sulit dipahami,maka kecenderungan pembaca untuk mengerti atau ingin membaca menjadi menurun.Hal ini jugalah yang membuat kita suka membaca bahan bacaan ringan seperti novel namun malas membaca buku pelajaran.

Selain isi dan juga kemudahan dibacanya,segi originalitas menjadi hal lain yang membuat buku di Indonesia menjadi inferior dibandingkan buku luar.Saya sendiri sering menemukan bahwa banyak buku yang mengambil referensi dari bahan bacaan lain,namun demikian ada satu hal yang cukup menarik yakni korelasi antara bacaan dengan banyak referensi dan kualitas dari bacaan itu sendiri.Pengalaman pribadi saya menemukan bahwa buku dengan sedikit  kutipan (lebih orisinal) akan lebih mudah dipahami karena ide dari sang penulis utama terlihat jelas,namun disisi lain buku yang memiliki banyak kutipan dari buku lain cenderung lebih susah dipahami karena terdapat banyak ide didalamnya.

Memang benar bahwa kutipan dapat digunakan untuk menguatkan sudut pandang yang ingin disampaikan penulis,namun demikian perlu juga diingat bahwa hal yang dikutip belum tentu seratus persen sejalan dengan pola pikir yang ingin disampaikan penulis.Dengan semakin banyaknya kutipan,maka akan semakin banyak pula pola pikir penulis lain yang dimasukan kedalam tulisan.Sadar atau tidak,hal ini akan membuat ide tulisan menjadi saling bertentangan.

Faktor terakhir yang menyebabkan minat baca di Indonesia rendah adalah karena bagaimana buku diposisikan dalam kegiatan belajar.Buku dalam dunia pendidikan seringkali dianggap sebagai kitab mantra yang secara keseluruhan harus dihapalkan dan menjadi acuan utama.Tidak sesuai dengan isi buku maka dianggap salah dst.

Pola pikir semacam ini membuat siswa menjadi terpaku pada satu buku dan menganggap bahwa buku sebagai beban yang harus dikhatamkan layaknya sebuah kitab suci.Padahal satu subjek yang dibahas dalam suatu buku bisa dibahas secara berlainan bahkan bertentangan di buku yang lainnya.Hal inilah yang tidak muncul dalam dunia pendidikan kita.Dunia pendidikan kita hanya meyakini hanya ada satu kebenaran dalam satu subjek.Konsep seperti ini membuat siswa tidak terdorong untuk mencari “kebenaran” versi yang lain melalui buku yang lain.

Buku sebenarnya adalah referensi,ibaratkan sebuah manual untuk mengendarai mobil.Pada akhirnya bagaimana gaya anda berkendara tidaklah menjadi soal selama anda mematuhi rambu lalu lintas dan tidak menabrak orang tentunya.Seperti halnya gaya berkendara,tidak ada satu gayapun yang dianggap salah selama anda mematuhi rambu lalu lintas.Anda bisa berkendara dengan pelan dan hati-hati atau berkendara secara agresif,semua kembali pada anda sendiri.


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Opini 15 : Pandangan Keliru Mengenai Minat Baca Masyarakat Indonesia"

Post a Comment